Sports_Baccarat simple best strategy_Live Baccarat Registration_Baccarat Website

  • 时间:
  • 浏览:0

Ibu, Baccarat OnlineananBaccaraBaccarat Onlinet Onlineda mBaccarat Onlineenyadari bahwa ayah yanBaccarat Onlineg tak pernah menimang bayiku itu sosok ayah sejati.

Ayah, ananda menyadari bahwa ibu yang menyajikan sarapan pagiku kini, wanita yang tak pernah mengandungku itu bukan sekedar ibu pengganti. Tetapi wanita yang tak pernah panas lagi.

Ayah, Ibu, walaupun kita telah berpisah, cerai pastilah sesuatu yang kalian hindari dalam keluarga kecil kita. Semua orang bahkan menganggap perceraian identik dengan petaka dalam keluarga, apalagi keluarga yang sudah tidak berdua saja.

Ayah, ananda sering menantimu pulang di kala sore. Menunggu gendonganmu sambil berteriak hore. Tetapi ternyata kau mulai sering tidak pulang ke rumah. Yang kutahu dulu hanya sebatas kau bekerja, lembur mungkin, begitu kata ibu. Walaupun sebenarnya kau tak sekdar mengurangi waktu bertemu ibu. Lebih dari itu mungkin mulai mencari wanita baru.

"Oh ternyata kita berpisah bukan karena benci tetapi ibu atau ayah memutuskan untuk menyusuri jalan yang lebih baik atau indah lagi."

Ananda tak tahu dari mana dan bagaimana semua ini bermula. Kalian menutupi semua karena ingin ananda menikmati masa kecil yang bahagia. Ananda yang belum belia pun bertanya dengan polosnya, kenapa kita mulai jarang bermain bertiga?

Ibu, tiap malam kau segera membuatkanku susu. Kau setia menidurkanku, menungguku hingga tersenyum dalam lelap dengan balutan selimut mimpi kecilku. Menungguku terlelap untuk kau bisa menuangkan tangis pilu. Di balik hangat dekapan itu, kau simpan sesuatu yang beku. Kupahami kini, kau mungkin memendam rasa ingin kembali ke orang tuamu saat itu.

Kalian menipu. Menimbun tumpukan kelu. Hanya agar ananda tumbuh seperti teman-temanku.

Oleh ayah yang tak lagi sering di rumah. Atau memar-memar yang menimpa badanku. Jika masih satu rumah mungkin ananda takkan seperti ini. Karena ayah akan selalu direcoki. Karena ibu akan terus menerima maki.

Ibu, kau tentu tak asal melayangkan gugat tanpa mempertimbangkanku. Kuintai sujudmu yang basah tiap malam ketika terbangun dari tidurku. Tanpa kau sadari ananda menggelar sajadah mengikutimu. Ananda yakin isi doamu bukanlah ‘pisahkan kami,’ melainkan apa yang juga kupanjatkan, ‘putuskan yang terbaik untuk anakku.’

Memasuki usia remaja, kalian mulai tak tahan dengan topeng sandiwara. Perdebatan kecil sering tercuat di depanku. Sedangkan ananda hanya protes atas suara tinggi yang sering memekakkan telinga. Rumah kecil kita mulai goyah, bahkan di dalamnya ananda ingin pulang entah ke mana.

Kini anakmu telah dewasa. Telah mempelajari bahwa Tuhan memang tidak menyukai perpecahan dalam rumah tangga, tetapi Dia tidak melarangnya. Dari situlah ananda mulai memahami, bahwa ada alasan yang mendasari mengapa perceraian tetap kalian pilih.

Ananda kini memahami, mugkin ananda tak akan tumbuh lebih baik jika tetap satu rumah. Jika masih satu rumah mungkin ananda akan lebih cepat tua. Oleh ibu yang melulu dibakar amarah.

"Kenapa ananda punya dua rumah? Mungkin juga dua ayah dan dua bunda. Yaitu karena ayah/ibu dulu ingin menyelamatkan masa depan anaknya, masa depanku."

Tidak ada yang menginginkan sebuah keluarga tercerai-berai. Ananda yakin ada sesal dalam relung hati kalian kini. Namun harapan tak berhenti karena perpisahan. Kasih sayang tak terputus karena berjauhan. Kasih kalian akan tetap sepanjang jalan. Perceraian boleh membuat kita berjauhan, tetapi tidak mengubur rasa sayang.

“Jangan bertengkar di depanku!” tapi ketika tak terlihat saling bicara, ananda mulai punya pinta kedua: berbaikanlah. Meski ananda tahu itu hanya harapan berujung gundah.

Hingga selembar visum untuk pipimu yang membiru membawa keputusan keluarga kecil kita pada meja hijau agama. Hingga atap rumah kita pecah sementara ananda tak mampu membelah diri mengikuti kalian berdua.

Dulu memang ananda tidak terima. Dulu ananda meronta agar kita tetap bisa bersama. Tetapi kini ananda memahami kenapa kita memang harus berpisah.

Di balik kegundahanku, ternyata ananda melupakan sesuatu. Betapa sesaknya kalian selama ini menahan demi ananda. Betapa kuatnya kalian menunggu hingga ananda cukup dewasa untuk menerima.

Ananda saja yang belum lama merasakannya seperti telah hilang kekuatan. Tetapi kalian selama ini mampu menunggu pertumbuhanku. Kepala kecilku terpacu untuk memahami hal itu.

“Ayah bekerja sayang. Buat beli mainan kesukaan kamu…,” kata Ibu, padahal ayah sengaja mengurangi waktu bertemu.

“Ibu sibuk memasak kue untuk kita!” kata Ayah, padahal dia sedang sendu.

Duniaku dulu masih hanya sebatas mainan dan kudangan. Ananda belum paham tentang kehidupan yang ternyata tak semanis permen yang kalian belikan. Belum memahami bahwa ada masalah diantara kalian, karena di depanku kalian tetap dengan senyuman. Bersamaku kalian berikan rasa sayang dengan menutupi perdebatan.