Sing baccarat method_Genting Online Gambling_Gambling to make money

  • 时间:
  • 浏览:0

TergU.S. U.S. online gamblingonline gamblingantung U.S. online gamblingkonteksnya, ketika tengah bercanda tentu mahasiswa hukum juga tahu kapan harus menanggapinya dengan jenaka. Nggak lantas semata-mata serba tegang dan bakal dibawa ke meja hijau semua.

Beribu pertanyaan semacam ini sering menghinggapi telinga orang-orang yang memilih Fakultas Hukum sebagai kampus mereka semasa kuliah.

Memang sih kamu yang anak hukum sedikit banyak pasti tahu sejumlah pasal-pasal penting maupun undang-undang yang paling diperhitungkan. Bahkan mungkin ada para jenius yang benar-benar bisa hapal semuanya. Namun, meski hakim berpengalaman pun masih dipersilahkan menilik isi kitab perundangan karena memang mustahil kalau mau dihapalkan semua di luar kepala.

Selain sekali lagi nggak semua anak hukum pasti jadi pengacara, nggak semua juga pengacara itu hanya memihak pada sisi yang berduit saja. Masih banyak mereka-mereka yang memperjuangkan keadilan tanpa banyak meminta imbalan. Bergabung dengan lembaga-lembaga bantuan hukum untuk membela rakyat yang tertindas.

Nggak jarang kamu malah memilih menghindari konfrontasi yang gak perlu via giphy.com

Selain itu, orang Batak atau Sumatera juga kerap dianggap memiliki watak yang kuat dan jago mempertahankan argumentasinya sehingga terasa pantas untuk menjadi orang yang bekerja di bidang hukum. Padahal sebenarnya ada banya ragam mahasiswa yang berasal dari berbagai suku lain juga kok yang memiliki passion untuk menimba ilmu di sekolah hukum.

Anak-anak hukum juga jago bercanda kalau emang pas momentnya via tumblr.com

Apa saja sih hal-hal stereotype tentang anak hukum yang ternyata nggak selalu benar itu?

Pintar bicara, pandai berdebat dan kuat mempertahankan pendapat tentu merupakan kualitas ideal dari semua orang yang berniat bekerja di bidang hukum. Terutama untuk bekal membela klien di depan meja hijau. Akan tetapi harus diakui kalau nggak semua orang terlahir dengan bakat ini atau bisa menguasainya dengan mudah.

“Wuiiih! Lulus jadi hakim nih. Asiiik, ntar kalau gue ditilang, bantuin gue ya di pengadilan!”

Kuliah dan lulus dari Fakultas Hukum tidak lantas secara otomatis membuat kamu bakal jadi praktisi hukum setelah lulus nantinya. Masih ada beberapa pendidikan dan ujian khusus yang harus dilakukan agar kamu bisa mendapatkan gelar-gelar tertentu.

Mungkin, karena kebanyakan tokoh pengacara terkemuka yang sering tampil di layar kaca berasal dari Batak atau Tanah Sumatera kali ya?

Berjiwa idealis, pemerhati dunia politik, hukum dan keadilan otomatis membuat predikat agent of change dan sering demo turun ke jalanan melekat di dada anak Fakultas Hukum.

“Eh lo aja deh yang ngomong sama petugasnya! Lo kan pasti pinter debat, anak hukum gitu!”

“Woooh, kuliah di fakultas hukum?! Pasti jago, hapal KUHP dan KUHPer ya?!”

Contohnya: Ruhut Sitompul yang juga sempat sukses sebagai aktor dan pelawak. Intinya menjadi mahasiswa hukum nggak lantas membuat kamu anti-ketawa, super serius, nggak bisa diajak bercanda type of person. Bahkan banyak di antara para mahasiswa hukum yang jadi terlatih untuk mengeluarkan lelucon segar karena sering ditempa untuk terampil dalam berbicara. Biar perkataannya gak basi dan bisa menarik perhatian.  Meskipun nggak bisa dipungkiri, mahasiswa hukum memang cenderung lebih suka lelucon yang sarkastik.

“Uuum… gimana ya… nggak gitu juga sih…” via giphy.com

“Papamu hakim/jaksa/pengacara/notaris di mana? Dulu lulusan sini juga?”

“Pasti kamu hapal undang-undang dong ya. Pasal-pasal gitu… coba dong kalau ada kasus ini kena pasal berapa?”

Begitu juga dengan kamu yang merasa anak hukum tapi masih malu-malu kucing dan nggak bakat asertif ketika berbicara di muka umum…

Kalian yang para mahasiswa hukum pernah merasakan salah satu dari ekspektasi di atas nggak? Atau malah mau curhat dan menambahkan poin lain yang terlewatkan. Silahkan aja… Yang penting jangan patah semangat dalam menempuh pendidikan ya!

Padahal banyak juga yang lebih memilih pendekatan dengan diskusi, musyawarah atau seminar untuk menyampaikan aspirasi mereka. Penyampaian kritik dengan cara-cara lain seperti pers mahasiwa dan gerakan organisasi yang lebih ‘adem’ dalam menyampaikan suara juga marak dipilih.

Nggak semua anak hukum itu gampang baper kok, suwer… via www.tumblr.com

Ayo ngaku aja, masih ada yang suka males atau bangun kesiangan buat mandi kan? via hipwee.com

“Kamu habis dari kampus? Kok nggak pake blazer? Kulihat Pengacara Hotman itu pakai baju perlente terus setiap bicara di televisi”

Undang-undang itu jumlahnya ada ratusan. Peraturan hukum yang ada jumlahnya sangat banyak dan terus bertambah.

Ribet banget kalau sehari-hari kuliah pakai setelan suit atau blazer profesional… Gak punya ongkos buat dry clean-nya juga.

Kadang ada juga rasa malas harus menghapalkan berkitab-kitab undang-undang via tumblr.com

Selain itu lingkup karir dalam dunia hukum tidak terbatas pada pengacara, hakim, jaksa, notaris dan semacamnya saja. Ada posisi-posisi lain yang juga bisa dijalani seperti konsultan, dosen, kerja di perusahaan atau bahkan ke lapangan yang sama sekali tidak berhubungan dengan hukum. Yang penting sesuai dengan kompetensi dan minatmu.

Nggak semua mahasiswa hukum akan menjadi evil lawyers atau corrupt judges via tumblr.com

Mau kuliah di jurusan mana pun, yang akan menjamin masa depan seseorang hanyalah kerja keras dan kegigihan seseorang itu sendiri. Anak hukum bukannya tidak punya kekhawatiran dan problematika soal masa depan setelah lulus. Ada berbagai kendala juga yang bakal menyertai langkah para Sarjana Hukum setelah wisuda nanti. Nggak ada yang pasti dan enak di dunia ini.

Entah ya kalau kamu kelak jadi pengacara atau praktisi hukum juga, memang nggak mustahil kalau pakaianmu akan serba resmi mengikuti tuntutan profesi. Tapi selama kuliah sih, sama aja seperti mahasiwa di fakultas lain: yang penting rapi, sopan, berkerah dan nggak pakai sandal.

Tidak sedikit pertanyaan dan anggapan yang salah kaprah atau tidak sepenuhnya benar dilontarkan. Terkadang, kamu yang berkuliah di jurusan hukum, bingung bagaimana cara menanggapinya. Kalau bilang tidak benar, takut mengecewakan harapan orang; kalau dibilang pasti betul bakal bikin makin salah kaprah.

Aduh, udah kaya, sukses, pinter, temennya artis-artis. Mau dong jadi Meriam Belina (loh?) via hipwee.com

Entah kenapa, anggapan bersekolah di jurusan hukum demi melanjutkan nama orang tua semata, masih cukup banyak di kalangan mahasiswa hukum. Meskipun memang ada yang memilih fakultas ini untuk meneruskan cita-cita atau nama baik orang tua tapi nggak sedikit juga yang memilih untuk memulai langkah mereka sendiri di sana.

Sebenarnya apa tolak ukur masa depan yang ‘sudah pasti jelas dan cerah?’ Apakah jurusan seseorang menjamin nasib dan kelanjutan hidupnya di masa mendatang?

Kamu kuliah di suatu jurusan tertentu belum tentu juga bakal menjamin selera tontonanmu. Bisa jadi saking bosannya ngikutin perkembangan polkumham di kampus dan media massa membuat kamu lebih hobi buat nonton ILK alias Indonesia Lawak Klub dibanding ILC waktu lagi santai di rumah. Itung-itung selingan lah, mendengarkan candaan Cak Lontong setelah pusing memikirkan keadaan negara yang carut marut.

“Kalau kuliah hukum, berarti kamu orang Batak/Sumatera? Marganya apa?”