Indonesian odds_Bookmaker website_Live Baccarat_Sports betting_Malaysia Online Casino

  • 时间:
  • 浏览:0

Buy lottery Buy lottery Buy lottery appappappbuy lottery appBuy lottery appnamun, berapapun bayarannya, kerja seharusnya tetap ada batasannya guys. Jam kerja terlalu panjang dan tekanan kerja yang terlalu berat akan berakibat buruk bagi kesehatan. Padahal untuk bisa bekerja, kamu butuh tubuh yang sehat ‘kan?

Ngomong-ngomong, seminggu ini kamu sudah lembur berapa jam?

Soal etos kerja, orang Jepang memang tak perlu ditanya. Disiplin tinggi dan semangat bekerja membuat orang Jepang sering kerja ‘sukarela’ sampai tengah malam. Pembayaran uang lembur yang nominalnya tidak setara dan sering ditunda-tunda, ternyata tidak menyurutkan semangat kerja orang Jepang. Mereka membidik ‘promosi’ yang biasanya hanya bisa didapatkan setelah mengerjakan proyek besar.

Namun tetap saja sebesar apapun uang yang didapatkan, tidak akan mampu mengganti waktu istirahat yang terlalaikan. Sama seperti makanan dan minuman, istirahat dan kebahagiaan adalah kebutuhan wajib manusia. Istirahat yang tidak terpenuhi sangat mungkin berakibat fatal. Karena itu, work-life balance tetap harus diupayakan. Dengan begitu, waktu hidupmu yang singkat ini tidak akan habis di balik meja kerja. Di luar ruangan, banyak hal-hal baru dan seru untuk dilakukan. Kepuasan hidup manusia tentu tak hanya dari dunia kerja. Sederhananya, work hard play hard.

Masih ingat dengan Matsuri Takahashi, seorang pekerja di Jepang yang tewas bunuh diri setelah lembur 105 jam per bulannya? Berkaca dari itu, dunia bisnis di Jepang sedang berbenah. Perdana Menteri Shinzo Abe, melalui progam Abenomics Plan-nya, sedang menggencarkan reformasi dalam dunia kerja.

“Perusahaan benar-benar merampok karyawan, baik gaji maupun waktu istirahat.” Ungkap Toko Shirakawa, anggota panelis kerja pemerintahan, seperti yang dikutip dari Japantimes.

Jam kerja yang panjang ini ternyata juga membuat perekenomian mengalami kejenuhan. Stagnan dan tidak berkembang. Ya bagaimana lagi? Terlalu sibuk bekerja, mereka tidak sempat lagi untuk belanja ataupun menghabiskan uang. Belum lagi gaji yang tak sebanding dengan pengeluaran ditambah upah lembur yang tak segera dibayarkan. Inilah yang membuat ekonomi Jepang stagnan, karena konsumi publik tidak jalan.

“Tidak pernah mempermasalahkan klaim jam lembur karena itu akan membuat proyek saya kelebihan pengeluaran, dan itu akan mengganggu kesempatan saya untuk mendapat promosi,” kata seorang IT engineer yang namanya tidak mau disebutkan kepada Japantimes.

Ngomong-ngomong soal jam kerja yang terlalu panjang, Matsuri Takahashi hanyalah salah satu dari korban Karoshi (kematian akibat kerja yang berlebihan). Banyak kasus-kasus serupa yang membuat dunia bisnis Jepang yang identik dengan disiplin dan semangat kerja tinggi, ternyata dipenuhi catatan hitam.

Seperti yang kita ketahui semua, Jepang terutama Tokyo termasuk kota yang biaya hidupnya paling tinggi. Soal gaji memang boleh tinggi. Bayangkan saja, di Jepang seorang petugas keamanan bisa mendapatkan gaji 230.000 yen, yang setara dengan 24 juta. Gaji 20 juta di Indonesia yang sudah bisa membuat kamu bisa travelling sekali sebulan, belum bisa untuk apa-apa di Jepang. Karena ini juga banyak fenomena pekerja yang tinggal di warnet demi menghemat biaya. Di Jepang, gaji yang besar itu ternyata belum bisa untuk menyewa tempat tinggal. Mungkin ini juga yang membuat orang Jepang gila kerja.

Merugikan semua pihak, satu negara jadi susah bahagia karena kebanyakan kerja via pulitzercenter.org

Yah kalau begini, tak heran bila himbauan dari parah ahli ataupun pemerintah sering masuk kuping kanan dan keluar kuping kiri. Padahal bila beban kerja dan kelelahan sudah mulai membebani, siapa yang rugi?

Soal cinta, baiklah, boleh kita percaya bahwa kadang-kadang cinta tak ada logika. Tapi jangan sampai bekerja juga dilepaskan dari logika. Meski harus bekerja keras mengejar kebutuhan hidup atau sekadar menambah pundi-pundi tabungan supaya bisa pelesiran bagai sosialita, tetap saja waktu istirahat harus diperhatikan. Tanggung jawab pekerjaan jelas harus dipenuhi, tapi tanggung jawab kepada diri sendiri untuk hidup dengan layak juga patut dipikirkan. Karena kita butuh tubuh yang sehat untuk bisa bekerja ataupun menikmati hasilnya.

Dalam kebijakan yang bertujuan untuk meningkatkan perekonomian Jepang ini, pemerintah Jepang akan mengurangi jam kerja dan memberikan batasan waktu lembur. Selain itu, pemerintah juga akan mendesak perusahaan swasta untuk membayarkan upah lembur sesuai dengan jam kerja aktual. Selama ini ternyata upah lembur dibayarnya ‘suka-suka’, lho. Lemburnya 40 jam, dibayarnya 22 jam. Siapa yang tidak sedih?